MARSUPIALIA (MAMALIA BERKANTUNG)

kanggurumarsupialiamacropusMARSUPIALIA (hewan berkantung), mamalia yang memilki kandungan ganda, melahirkan anak yang perkembangannya masih sangat kurang lengkap dan juga ukurannya sangat kecil serta masih lama menempel pada puting induknya. Marsupialia, baik yang sekarang masih hidup maupun yang sudah menjadi fosil, tergolong infrakelas Metatheria yang bersama dengan Eutheria (mamalia sejati). Infra kelas mamalia yang masih hidup dan yang masih tersisa adalah Prototheria hanya mencangkup monotremata(hewan kloaka) atau mamalia (hewan menyusui) yang bertelur (platypus).

Marsupialia merupakan satu-satunya ordo Metatheria dan karena itu disebut juga Didelphia , suatu nama yang ada dengan kandungan ganda. Pada semua marsupialia saluran urine (ureter) yang berjalan dari ginjal ke kantung urine, membagi alat-alat kelamin yang sedang berkembang sehingga pada betina dewasa baik kandungan maupun vagina (penyalur pengangkatan spermatozoa yang akan membuahi), merupakan struktur ganda. Pada marsupialia jantan , kedua penyalur sperma yang akan menghantarkan spermatozoa dari testis ke alat kopulasi (penis), terletak di luar saluran urine sedangkan pada mamalia sejati (theria) terletak diantara saluran-saluran urine. Ciri-ciri organ untuk berkembang biak merupakan satu-satunya cara pasti untuk membedakan antara marsupialia dan mamalia sejati. Sebelum perbedaan ini diketahui beberapa diantara marsupialia yang dewasa ini masih hidup digolongkan mamalia sejati. Kantung yang telah memberi nama kepada hewan berkantung, sebenarnya bukan merupakan ciri mutlak, bahkan bukan suatu ciri umum kelompok ini. Kantung ini misalnya sama sekali tidak ada pada marsupialia primitif. Beberapa fosil yang kini dianggap mamalia yang dinaggap suatu infra kelas yang diragukan, mungkin juga merupakan marsupialia tetapi oleh karena fosil yang tersimpan dan masih utuh organ-organnya untuk berkembang baik mungkin tidak dapat ditemukan hingga harus menggunakan ciri-ciri anatomis lain.
Marsupialia dibagi atas kelompok, suatu pembagian yang didasarkan terutama atas jumlah dan bentuk gigi. Dibidang ini ada beberapa perbedaan jelas antara marsupialia dan mamalia lain. Mamalia masa kini berasal dari nenek moyang yang dimasing-masing belahan rahang atas memiliki lima gigi seri, satu gigi taring dan jumlah geraham palsu maupun sejati yang sama jadi rumus gignya adalah gigi atas 5.1.3.4., gigi bawah 4.1.3.4. dan seluruhnya lima puluh gigi. Sedangkan rumus gigi mamalia sejati pada bentuk primitif paling tinggi gigi atas 3.1.4.3., gigi bawah 3.1.4.3. dengan empat puluh empat gigi. Jadi marsupialia dengan nenek moyangnya mempunyai lebih banyak gigi seri daripada mamalia sejati. Jumlah gigi geraham (palsu = premolar dan sejati = molar) semula pada kedua kelompok yang sama tetapi marsupialia mempunyai tiga geraham palsu, sedangkan mamalia hanya mempunyai empat buah. Marsupialia mempunyai empat geraham sejati hanya memiliki tiga buah. Gigi seri berbentuk pahat atau kapak, sedangkan gigi taringnya tajam. Gigi-gigi palsu selalu berlainan, bentuknya juga biasanya lebih kecil dari yang sejati. Umumnya marsupialia dapat dibagi atas dua kelompok besar yang didalam klasifikasi lebih lama terkadang disebut sebagai ordo tersendiri. Kelompok-kelompok ini adalah marsupialia polyprotodont yang memiliki enam atau lebih gigi seri dalam setiap rahang, marsupialia diprotodont yang mempunyai enam gigi seri dalam rahang atas dan dua gigi seri yang membesar, menjorok kedepan dibagian depan dalam rahang bawah.
Metode kedua untuk membagi marsupialia adalah atas ciri-ciri kaki belakangnya, pada beberapa marsupialia, jari kedua dan ketiga sangat berkembang sedangkan jari ini pada hewan lain justru mengalamai reduksi dan bersambung dengan yang lain dibagian ujung. Yang pertama disebut bentuk Didactyl dan yang kedua Syndactyl.
Klasifikasi yang didasarkan pada bentuk gigi seri dan struktrur kaki adalah bertentangn dana tidak memuaskan, kelompok Didel-phidae (oposum amerika utara dan selatan dan beberapa jenis amerika selatan lainnya) serta marsupialia buas yang sudah punah (borhyaenidae) adalah polyprotodont dan didactyl. Tikus oposum dari amerika selatan juga didactyl tapi memperlihatkan bentuk dyprotodont dan pada beerapa jenis ada pengurangan jumlah gigi seri. Daesyuridae australia (tikus kantung, serigala kantung, iblis, tazmania, dll) adalah lyprotodont dan didactyl, akan tetapi pra meliadae australia (bandicut) adalah polyprotodon t dan sindactyl . Phalangeridae australia (marsupialia memajat, koala, hobat, kanguru dan walabi) adalah diprotodon dan sindactyl. Ahli paleontologi dan zoologi amerika G.G Simpson menyarankan untuk mengklasifikasikan kelompok-kelompok tadi sebagai super family. Dari situ jelas bahwa perameridae dan caenolestidae atas dasar gigi dan jari-jari mereka, tidak dapat dimasukkan klasifikasi manapun juga.
Hewan fosil berkantung tertua adalah didelpidae yang berbeda dari beberapa jenis yang masih hidup di amerika utara dan selatan. Alphadea, marsupialia dari zaman Krestascikum (kapur) amerika utara, mungkin nenek moyang yang menurunkan didelpidae yang masih hidup. Umum diterima bahwa marsupialia berasal dari amerika utara, punah disitu dan pada akhir pliosen kembali ke amerika utara dari amerika selatan. Marsupialia yang pergi ke amerika selatan disertai atau segera diikuti oleh mamalia sejati yang sama-sama menghuni bagian bumi tadi, sesudah daerah itu menjadi pulau karena hubungan dengan amerika utara menjadi terputus. Di amerika selatan marsupialia berkembang menjadi insektivora, karnivora kecil dan besar, tetapi tidak ada yang menjadai herbivora. Herbivora ini diantara mamalia sejati sudah ada dalam jumlah besar. Punahnya marsupialia karnivora besar di amerika selatan (berhyaenidae) mungkin dipercepat oleh datangnya karnivora sejati yang terjadi ketika dikala pliosen benua tadi disambung kembali ke amerika utara.
Marsupialia menyebar juga dari amerika utara ke benua erasia, rupa-rupanya melalui sambungan yang kini disebut alat bering. Disitu hewan ini punah dikala miosen, pada waktu yang sama seperti marsupialia dini, di amerika utara. Marsupialia mencapai australia, tempat mereka mengembangkan jumlah terbanyak ragam jenisnya di australia, tempat mereka mengembangkan jumlah terbanyak ragam jenisnya seperti insektivora, karnivora kecil dan besar, dan sejumlah besar herbivora karena tidak ada saingan berupa mamalia sejati. Karena ada radiasi adaptif marsupialia di australia itu besar, maka kini hanya ada wakil-wakil yang hidup di tanah atau di pohon, yang berpindah dengan berjalan, melompat atau melayang diudara. Hewan ini memperoleh nama yang menyatakan adanya kemiripan dengan mamalia sejati, seperti bajing berkantung, bandicut, dan tikus berkantung. Bagaimana marsupialia mencapai australia tidak diketahui, tapi mungkin menyebrangi selat bering kemudian menyusuri daerah-daerah pantai samudera pasifik, sampai di australia. Agaknya tidak pernah ada hubungan total baik antara australia dan asia barat daya, maupun antara australia dan amerika selatan. Kalau hal itu mungkin pernah ada , maka mamalia sejati sudah pasti masuk ke australia bersama marsupialia, karena sudah hampir dapat dipastikan bahwa ketika marsupialia hijrah, kedua jenis hewan ini sudah ada. Diperkirakan bahwa marsupialia menyebrang laut dari pulau ke pulau, dan dengan cara demikian sampai australia.
Marsupialia tidak memiliki gigi geligi susu seperti mamalia sejati. Dimasing-masing belahan rahang hanya ada satu geraham susu, yakni premolare desidous . Gigi ini sudah dini oleh gigi diganti oleh gigi geraham palsu permanen (premolar). Geraham susu ini berlainan dengan geraham palsu permanen yakni berbentuk geraham sejati. Penelitian – penelitian kini telah menimbulkan kesangsian mengenai ketepatan namanya dan mungkin lebih tepat kalau dianggap sebagai geraham sejati, hingga jumlah geraham sejati disetiap belahan rahang menjadi lima dan jumlah geraham palsu dua. Marsupialia selama perkembangan dini mempunyai sejumlah rudimenter (menyusut) yang dapat berubah-ubah terkadang disebut prelakteak yang dini sudah menghilang atau tidak berkembang melampaui tahap bibit awal.
Marsupialia mempunyai jumlah kromosom yang lebih kecil dari pada jumlah yang dimiliki mamalia sejati atau yang bertelur. Tapi memiliki jumlah de-oxyribonucleice acid (DNA) yang setingkat nilainya. DNA marsupialia jumlah kromosomnya kurang dibanding mamalia lain, tetapi ukurannya lebih besar jumlah kromosom marsupialia antara 10 dan 32 (rata-rata 18), sedangkan jumlah rata-rata pada mamalia lain ini berbeda dengan dengan burung jantan dan beberapa reptil jantan, karena membuat 2 macam sel mani, karena itu yang jantan disebut heterogematis, sedangkan betina homogamatis, karena hanya memproduksi satu macam sel telur. Perpaduan sel mani kromosom-Y dengan sel telur menghasilkan turun jantan, sedang perpaduan sel mani berkromosom-X dengan sel telur menghasilkan turunan betina. Seperti pada mamalia sejati, marsupialia yang menyimpang yang memiliki kromosom-Y, biasanya mempunyai bentuk betina, sedangkan satu kromosom_Y tunggal dapat mengimbngi pengaruh 2 kromosom –X pada individu yang menyimpang dengan kromosom-X pada individu yang menyimpang dengan kromosom-X extra. Jadi kromosom-Y sangat menentukan kelamin jantan, suatu situasi yang berlaku juga bagi mamalia sejati. Struktur marsupialia sangat sederhana dan lebih kecil dari pada otak mamalia sejati yang sama besarnya. Gabungan serat –serat saraf, corpus callosum, yang pada mamalia sejati menghubungkan otak kiri dengan otak kanan, pada marsupialia kantung tidak ada, atau hanya ada dalam bentuk rudi-menter. Tengkorak marsupialia ditandai dengan tempat bagian otak berukuran kecil, kecilnya jarak antara rongga mata dan perkembangan yang relatif besar yang dialami bagian yang terletak di depan otak, mencakup rongga hidung. Sesuai dengan hal ini, maka marsupialia memiliki indria hidung yang baik , sedangkan kemampuan penglihatannya kurang kuat, tetapi disesuaikan dengan kehidupan malam. Tulang-tulang hidung yang merupakan sisi atas rongga hidung kearah rongga mata menjadi semakin lebar, sedangkan pada mamalia sejati justru menjadi lebih sempit. Baik pada mamalia sejati maupun pada marsupialia ada lubang-lubang yang sama untuk dilalui syaraf dan pembuluh darah, tetapi, tetapi pada marsupialia foramen opticum yang dilalui syaraf mata menjadi satu dengan lubang terdepan untuk syaraf mata dan bagian terdepan syaraf trigeminus. Disisi samping tempurung tengkorak mamalia sejati ada lubang tersendiri bagi syaraf mata dan syaraf –syaraf otot mata. Tulang rahang bawah atau mandibula marsupialia memiliki suatu kelanjutan khas yang seperti siku (processus angualaris). Gelang pinggul, kecuali pada srigala berkantung, mempunyai sepasang tulang kantung yang mengarah kedepan. Tulang ada pada kedua jenis kelamin, baik pada marsupialia yang ada kantungnya maupun tidak. Tulang itu ada juga pada hewan kloaka atau hewan berparuh (monotremata) dan ada juga pada beberapa anggota mulituberculata (suplas allotherhia) yang sudah punah serta pada reptilia yang mirip mamalia. Reptilia mirip mamalia ini, dalam banyak hal ada ditengah-tengah antara reptila dan mamalia.
Masa hamil pada semua marsupialia singkat. Pada bandicut hidung panjang dan bandicut hidung pendek masa hamil 12 hari, pada oposum amerika utara 13 hari, pada oposum australia 17 hari dan tidak lebih lama dari 38 hari, pada kanguru terbesar. Anak oposum australia beratnya pada waktu lahir hanya 0,2 gr atau kira-kira 0,013% dari berat badan induknya dan kanguru raksasa merah yang baru lahir beratnya 1,5 gr atau kira-kira 0,003% dari berat badan induknya. Lama masa hamil matrsupialia tidak memproduksi hormon reproduktif seperti mamalia sejati. Ini mungkin yang menerangkan singkatnya masa kehamilan, sebab anak dilahirkan pada masa akhir penyaluran hormon kerahim atau tidak lama sesudahnya. Masa penyaluran hormon diperpanjang selama kehamilan oleh kegiatan hormon yang dihasilkan dalam plasenta. Pada kanguru biasanya ada satu telur yang dibuahi dalam salah satu kandungan, sedangakan sang induk menyusui anak yang lahir terlebih terdahulu. Telur yang sudah dibuahi istirahat sampai anak di sapih. Apabila anak ini kecelakaan maka perkembangan telur dibuahi berjalan terus. Hal ini menerangkan mengapa kanguru dalam kurungan dapat memperoleh anak lagi tanpa dalam masa yang sama hadir seekor jantan. Marsupialia yang muda disusui dalam kantung. Pada bentuk-bentuk tanpa kantung anak dalam masa ini menempel erat-erat pada puting, lama masa ini pada berbagai jenis berbeda-beda dan selama periode ini anak berkembang sampai suatu stadium yang dalam garis besar yang sama dengan yang dijumpai pada kelahiran mamalia sejati. Periode anak tinggal di kantung dapat bervariasi dari kira-kira delapan minggu pada bandicut hidung pendek sampai akhir setahun pada kanguru raksasa abu-abu. Sesudah masa ini anak yang tidak hidup lagi dikantung masih juga disusui beberapa lama. Bahkan juga kalau sudah ada anak baru dalam kantung. Sang induk lalu mengeluarkan dua jenis susu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s